Di bawah terik matahari yang menyengat, seorang ayah terus mengayunkan cangkulnya dengan sisa tenaga yang dimiliki demi masa depan. Punggungnya yang semakin membungkuk menjadi saksi bisu betapa berat beban hidup yang harus ia pikul setiap hari tanpa mengeluh. Semua keringat yang mengucur hanya memiliki satu tujuan mulia, yaitu melunasi Biaya Pendidikan anak.
Setiap kali tahun ajaran baru tiba, raut cemas seringkali menghiasi wajahnya saat melihat daftar keperluan sekolah yang semakin panjang. Harga buku pelajaran dan seragam yang terus meningkat menuntutnya untuk bekerja lebih keras melampaui batas kemampuan fisik yang ada. Namun, bagi seorang ayah, terpenuhinya Biaya Pendidikan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Ia seringkali harus menyisihkan uang makan pribadinya demi memastikan tabungan untuk uang kuliah anak tetap terisi dengan cukup. Rasa lelah yang mendera seolah hilang seketika saat melihat senyum bahagia anaknya yang baru saja menerima rapor dengan nilai memuaskan. Perjuangan mengumpulkan Biaya Pendidikan menjadi bentuk cinta paling nyata yang bisa ia berikan kepada buah hati tercinta.
Meskipun usianya tidak lagi muda, semangatnya untuk mencari nafkah tambahan tidak pernah surut sedikit pun ditelan oleh kerasnya zaman. Ia rela mengambil pekerjaan sampingan hingga larut malam demi menutup kekurangan dana yang dibutuhkan untuk keperluan praktikum di sekolah. Baginya, setiap rupiah yang disisihkan untuk Biaya Pendidikan adalah investasi masa depan yang sangat berharga.
Tak jarang ia harus meminjam modal atau berutang demi memastikan anaknya tidak dikeluarkan dari kelas karena tunggakan administrasi yang menumpuk. Kehormatan dirinya seolah luruh demi memastikan pendidikan sang anak tidak terputus di tengah jalan akibat kendala ekonomi keluarga. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jembatan emas yang mampu memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu.
Buku-buku baru yang masih beraroma kertas segar di tangan sang anak merupakan buah dari perjuangan panjang yang sangat melelahkan. Ayah selalu berpesan agar setiap lembar ilmu dipelajari dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk penghormatan atas kerja keras yang dilakukan. Kebanggaan terbesar seorang ayah adalah melihat anaknya mengenakan toga wisuda dan meraih gelar yang diimpikan selama ini.
Dinamika kenaikan uang pangkal sekolah seringkali menjadi momok menakutkan bagi para orang tua yang bekerja di sektor informal. Pemerintah diharapkan mampu memberikan skema bantuan yang lebih tepat sasaran agar beban para pejuang nafkah ini sedikit lebih ringan. Tanpa subsidi yang memadai, akses terhadap ilmu pengetahuan berkualitas akan tetap menjadi impian yang sulit untuk digapai.