Literasi Finansial untuk Remaja: Siswa SMA Perlu Belajar Mengelola Keuangan Sejak Dini?

Masa remaja di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) seringkali menjadi periode krusial dalam membentuk kebiasaan finansial. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, seberapa penting siswa SMA belajar mengelola keuangan sejak dini? Jawabannya, sangat penting. Literasi finansial tidak hanya membantu mereka dalam mengelola uang saku, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk masa depan yang stabil dan mandiri, menjauhkan mereka dari jeratan utang dan keputusan finansial yang buruk di kemudian hari.

Pentingnya belajar mengelola keuangan bagi remaja disorot dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 20 November 2025. Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, Bapak Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa rendahnya literasi finansial di kalangan remaja menjadi salah satu tantangan besar. “Mereka adalah generasi yang akan memimpin ekonomi di masa depan, tetapi banyak yang belum memahami konsep dasar seperti menabung, berinvestasi, dan menghindari utang konsumtif,” ujar Friderica. OJK kini bekerja sama dengan beberapa sekolah untuk mengintegrasikan materi literasi finansial ke dalam kurikulum.

Salah satu sekolah yang sudah mengimplementasikan program ini adalah SMA Tunas Bangsa di Surabaya. Sejak awal tahun ajaran, sekolah ini mewajibkan siswanya untuk mengikuti kelas pengelolaan keuangan. Materi yang diajarkan mencakup penyusunan anggaran, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pengenalan dasar-dasar investasi. Pada 25 November 2025, guru mata pelajaran ekonomi, Ibu Rina Susanti, menceritakan bagaimana siswanya antusias dalam mengikuti program ini. “Mereka mulai sadar bahwa uang saku bukan hanya untuk jajan, tapi juga bisa disisihkan untuk membeli barang yang mereka inginkan di masa depan,” kata Ibu Rina. Ini menunjukkan bahwa belajar mengelola keuangan harus dimulai dari hal-hal yang sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Dampak positif lainnya adalah mengurangi potensi kenakalan remaja yang berakar dari masalah keuangan. Pihak kepolisian, melalui Kompol Budi Susilo dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, menyatakan bahwa kasus kenakalan remaja seringkali berkaitan dengan masalah keuangan, seperti memeras teman atau terlibat dalam pencurian. “Dengan belajar mengelola keuangan yang baik, remaja dapat lebih bertanggung jawab dan terhindar dari perilaku negatif,” ujar Kompol Budi dalam kunjungan ke sekolah pada 27 November 2025.

Dengan demikian, belajar mengelola keuangan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan. Ini adalah keterampilan hidup yang akan terus relevan dan dibutuhkan hingga mereka dewasa. Dengan dukungan dari sekolah, orang tua, dan lembaga keuangan, diharapkan generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijak dalam hal finansial.