Sebagai salah satu sekolah menengah atas paling bergengsi di ibu kota, sekolah yang sering dijuluki “Bukit Duri” ini tidak pernah lepas dari sorotan publik. Banyak persepsi yang berkembang di tengah masyarakat mengenai apakah sekolah ini benar-benar inklusif ataukah telah berubah menjadi institusi yang hanya untuk anak kalangan sultan. Label ini muncul bukan tanpa alasan, mengingat banyaknya lulusan sekolah ini yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi mapan serta pengaruh sosial yang kuat di Jakarta.
Secara historis, sekolah ini dikenal karena prestasi akademiknya yang luar biasa dan konsistensinya dalam mengirimkan siswa ke fakultas-fakultas favorit di universitas ternama. Namun, seiring berjalannya waktu, gaya hidup siswa yang terlihat di media sosial sering kali memperkuat asumsi bahwa sekolah ini memang hanya untuk anak kalangan sultan. Fasilitas pendukung belajar yang serba modern, kegiatan ekstrakurikuler yang mewah, hingga tren kendaraan yang terparkir di sekitar sekolah menjadi bahan pembicaraan yang memperlebar jarak persepsi antara masyarakat umum dengan realitas di dalam sekolah.
Jika ditelusuri lebih dalam melalui sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB), sebenarnya jalur prestasi dan zonasi tetap memberikan peluang bagi siapa saja yang memiliki kompetensi intelektual tinggi. Namun, biaya tambahan untuk kegiatan pendukung dan gaya hidup yang kompetitif di lingkungan tersebut sering kali membuat orang tua dari kalangan ekonomi menengah ke bawah merasa ragu. Opini tentang sekolah yang hanya untuk anak kalangan sultan ini menjadi beban psikologis tersendiri bagi siswa yang masuk melalui jalur murni tanpa latar belakang finansial yang berlebih, karena mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat homogen secara ekonomi.
Pihak sekolah dan ikatan alumni sebenarnya telah berusaha mematahkan stigma ini dengan menyediakan berbagai skema beasiswa internal bagi siswa yang berprestasi namun terkendala biaya. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kecerdasan tidak mengenal status sosial, dan sekolah ini tetap memegang teguh nilai-nilai meritokrasi. Namun, narasi hanya untuk anak kalangan sultan sudah terlanjur melekat kuat di benak publik, sehingga memerlukan upaya komunikasi yang lebih masif untuk menunjukkan sisi humanis dan inklusif dari aktivitas pendidikan yang berlangsung di sana.