Sering kali, di lingkungan sekolah, kita mendengar istilah “hanya bercanda” sebagai tameng untuk perilaku yang sebenarnya merupakan bentuk kekerasan verbal. Tindakan merendahkan, mengejek fisik, hingga memberikan julukan buruk sering kali dianggap remeh dan dinormalisasi oleh para siswa, bahkan terkadang oleh guru. Padahal, dampak dari kata-kata yang kasar jauh lebih membekas daripada luka fisik. Normalisasi ini menciptakan budaya sekolah yang beracun, di mana korban merasa takut untuk berbicara dan pelaku merasa tindakan mereka adalah hal yang lumrah dalam pergaulan remaja sehari-hari.
Normalisasi kekerasan verbal di sekolah membuat batas antara candaan dan perundungan menjadi kabur. Ketika seseorang mengejek kekurangan orang lain dan semua orang tertawa, korban dipaksa untuk ikut tertawa agar tidak terlihat “baper” atau lemah. Padahal, di dalam hatinya, korban sedang mengalami penurunan kepercayaan diri yang drastis. Jika dibiarkan, perilaku ini akan berlanjut menjadi trauma berkepanjangan yang mempengaruhi kesehatan mental mereka hingga dewasa.
Pihak sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk memutus rantai kekerasan verbal ini. Kebijakan anti-bullying harus ditegakkan dengan serius, bukan hanya sebagai formalitas. Guru perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda perundungan verbal dan tidak menganggap sepele laporan siswa. Menciptakan dialog terbuka di kelas mengenai empati dan cara berkomunikasi yang sehat dapat membantu siswa memahami dampak dari kata-kata yang mereka ucapkan. Lingkungan yang menghargai setiap individu akan mengurangi keinginan siswa untuk melakukan perundungan sebagai cara untuk mencari perhatian atau status sosial di kelompoknya.
Selain itu, edukasi di rumah sangat penting untuk mencegah kekerasan verbal. Orang tua harus memberikan contoh perilaku berkomunikasi yang baik dan tidak kasar di depan anak-anak mereka. Anak perlu diajarkan bahwa humor tidak seharusnya mengorbankan harga diri orang lain. Ketika anak terbiasa menghargai perbedaan dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan candaan, mereka akan tumbuh menjadi individu yang memiliki rasa empati tinggi. Membangun karakter yang peduli adalah kunci utama untuk menghilangkan budaya kekerasan di sekolah.
Sudah waktunya kita berhenti menormalisasi kekerasan verbal dengan dalih candaan. Kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Dengan menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif, saling menghargai, dan responsif terhadap bentuk kekerasan sekecil apa pun, kita dapat memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa. Mari kita jaga harga diri setiap anak dengan memastikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi perilaku kasar yang menyakiti perasaan orang lain, sehingga masa depan generasi muda kita tidak lagi dibayangi oleh trauma kata-kata yang tidak bertanggung jawab.