Adanya asumsi bahwa semakin banyak PR dan les, semakin pintar anak, telah menjadi pendorong utama beban pendidikan yang berlebihan saat ini. Orang tua seringkali merasa bahwa volume tugas dan bimbingan belajar tambahan adalah jaminan kesuksesan akademik. Padahal, seringkali praktik ini hanya menambah beban tanpa esensi pemahaman yang mendalam, menciptakan siklus kelelahan tanpa hasil optimal bagi sang anak.
Asumsi ini menciptakan tekanan besar pada yang harus menyeimbangkan materi sekolah yang padat dengan jadwal les yang ketat. Mereka kehilangan waktu bermain dan istirahat yang krusial untuk perkembangan fisik dan mental. Alih-alih mendapatkan pemahaman yang lebih baik, anak-anak justru merasa terbebani dan stres, mengakibatkan hilangnya motivasi intrinsik untuk belajar secara berkelanjutan.
Adanya asumsi ini juga memengaruhi kurikulum sekolah yang cenderung padat. Penekanan pada cakupan materi yang luas dan ujian berulang seringkali membuat guru terpacu untuk menyelesaikan target, bahkan jika itu berarti mengorbankan pemahaman konseptual. Ini menciptakan lingkungan di mana kuantitas mengalahkan kualitas, sehingga fokus angka menjadi lebih dominan dibandingkan esensi pemahaman materi.
Bagi orang tua, adanya asumsi ini bisa memicu kecemasan dan rasa bersalah jika mereka tidak mampu memberikan les tambahan. Mereka merasa tertekan untuk mengikuti tren, bahkan jika itu membebani finansial keluarga. Biaya les tambahan yang tinggi menjadi masalah tersendiri, menambah beban ekonomi orang tua yang ingin memberikan yang terbaik bagi masa depan anaknya.
Padahal, kecerdasan dan pemahaman sejati lebih dari sekadar jumlah PR atau les yang dikerjakan. Anak belajar paling efektif ketika mereka terlibat aktif, bereksplorasi, dan menemukan minat mereka sendiri. Adanya asumsi keliru ini menghambat pengembangan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan problem-solving yang justru sangat dibutuhkan di masa depan, bukan hanya nilai.
Penting bagi semua pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi hingga sekolah dan keluarga, untuk meninjau ulang adanya asumsi ini. Edukasi tentang metode belajar yang efektif dan pengembangan holistik anak harus lebih digalakkan. Ini termasuk mempromosikan waktu istirahat yang cukup, eksplorasi minat, dan aktivitas non-akademik yang mendukung pertumbuhan seimbang.
Komunitas petani dan kelompok masyarakat dapat berperan dalam menyebarkan informasi yang benar tentang pendidikan yang seimbang. Berbagi pengalaman positif tentang anak-anak yang berprestasi tanpa dibebani PR dan les berlebihan dapat membantu mengubah paradigma. Ini akan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih sehat dan suportif bagi semua anak.